Obligasi 101: Biar Kamu Ga Bingung

Kalau kamu sering mengikuti berita finansial, kamu pasti pernah dengar istilah obligasi.

Tapi apa sih sebenarnya obligasi itu? Gimana sih cara kerjanya?


Obligasi adalah instrumen investasi yang didasari oleh utang (debt). Karena itu, obligasi juga sering disebut sebagai Surat Utang.

Sederhananya, kalau kamu seorang investor obligasi, berarti kamu sedang minjemin uang ke pemerintah/perusahaan.

Pihak yang mau pinjam uang yang akan menerbitkan obligasi. Begitu obligasi diterbitkan (dan dijual), siapapun pembelinya akan diperlakukan sebagai pemberi pinjaman.

Setelah obligasi yang diterbitkan laku terjual, maka pemerintah/perusahaan penerbit obligasi dapat menggunakan modalnya untuk investasi atau membantu operasional.

Sama dengan jenis pinjaman pada umumnya, investor yang membeli obligasi akan dibayar dengan bunga pinjaman berdasarkan jumlah obligasi yang mereka beli. Sementara itu, pokok pinjaman akan dilunasi pada masa akhir peminjaman (maturity date).

Risiko obligasi, sangat erat kaitannya dengan kupon (imbal hasil) yang akan didapat oleh investor.

High Risk = High Coupon.

Low Risk = Low Coupon.

Kupon yang dibayarkan pada investor disebut juga yield.

Yield adalah persentase imbal hasil dari sebuah investasi berdasarkan harga pembelian.

Pada banyak kasus di Indonesia, pengertian yield dan kupon digunakan secara bergantian.

Seperti contoh di bawah, kupon dari Sukuk Ritel SR019-T3 adalah 5.95% yang artinya kamu akan mendapatkan yield 5.95% dari nilai investasi kamu.

SR019-T3 (bibit.id)

Uniknya, obligasi adalah instrumen investasi yang bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Sehingga harga bisa berfluktasi berdasarkan perubahan-perubahan risiko yang terjadi (misalnya perubahan pada tingkat suku bunga).

Jika kamu membeli Sukuk Ritel SR019-T3 dengan harga Rp10 juta, lalu kamu jual kembali di harga Rp12 juta, maka yield obligasi yang didapat oleh pembelimu sudah turun dari 5.95%/tahun menjadi 4.95% per tahun.

Harga obligasi di pasar sekunder akan berubah berdasarkan permintaan & penawaran (supply dan demand). Permintaan (demand) yang tinggi akan meningkatkan harga obligasi, dan menurunkan yield yang bisa diterima.