
Sejak April gue mulai aktif ngonten di sosial media X (dulu Twitter).
Maju-mundur-maju-mundur yang udah gue alami sejak 2021 akhirnya gue tepis aja, maybe now is the time.
Kenapa gue maksa banget harus aktif di sosmed?
Jawabannya, untuk ngebangun personal branding di internet.
Perubahan zaman terjadi semakin cepat.
Sekarang, semua hal sudah frictionless, seperti nggak ada batasan.
Calon manager lo, sebelum melakukan interview, udah nge-googling nama lo di internet.
Personal brand adalah CV di era frictionless.
Resume lo, adalah profile sosmed.
Pengalaman lo, adalah project yang lo share di sosmed.
Letter of recommendation lo, dilihat dari testimonial yang ada di akun sosmed.
Trust me, punya online CV udah menjadi keharusan. It is a non-negotiable.
Kemana aja lo? Kemana aja kita?
Masa Depan Dunia Kerja
Lo nggak mesti bercita-cita jadi influencer sebagai syarat ngebangun personal brand.
Cepat atau lambat, lo akan ketar-ketir karena belum menggunakan sosial media dengan tepat.
- HR merektrut berdasarkan sosial media.
- Klien merekrut berdasarkan sosial media.
- Customer ngebeli berdasarkan sosial media.
Sosial media menjadi kebutuhan dasar untuk melakukan promosi diri sendiri.
Inilah masa depan.
Inilah kenyataannya.
Inilah ekonomi digital.
Tanpa digital resume, lo cuma menutup kesempatan global yang terbuka lebar.
Mayoritas orang masih ngelihat sosial media sebagai sekedar aplikasi di handphone mereka, namun spending berjam-jam setiap hari.
Doom-scrolling.
Scrolling menjauh dari masa depan mereka sendiri.
Ntar, ketika lo sadar kegunaan lain dari sosial media, dunia baru pun terbuka di depan lo.
Lo akan menemukan:
- Skill yang nggak diajarin di sekolah
- Teman seideologi yang nggak ditemukan di sekitar
- Uang yang nggak bisa didapat dari gaji doang
Para influencers, value creators, orang-orang narsisistik udah ngebangun personal brand sejak zaman batu internet.
Nggak ada waktu lagi buat nunggu, kalau lo mau masa depan aman, segera bangun CV online a.k.a Personal Branding.
Nobody Knows You Exist
Sekarang gimana?
Promosikan diri lo mulai dari sekarang, kalau lo nggak mau kehilangan peluang untuk membangun network, audience, dan bahkan bisnis.
Mempromosikan diri sendiri nggak harus dengan menjual produk atau servis besar dan heboh. Lo bisa mulai dengan cara yang lebih elegan dan enak diterima. Biasanya, yang seperti ini lebih efektif.
Share tentang hasil pekerjaan lo, project apa yang lo sedang kerjakan, perspektif unik yang lo miliki, dan skill penyelesaian masalah yang lo punya.
Ada banyak prompt-prompt yang membantu pemula untuk bisa lebih sering sharing mengenai diri sendiri.
Di bulan Mei ini, gue sedang mengikuti challenge #MayLearnings dari @narawastu di X (twitter).
31 Day Posting Challenge
May 1, 2024—Day 1#MayLearningsYou will never forget everything with this Second Brain app
Obsidian
Tools yang ngebantu workflow gue di 2024 untuk:
• kerja
• research
• note-takingDengan fitur graph-nya yang cool abis
I mean, look at this: pic.twitter.com/zcDuK7zPeg
— Fachry Nuzuli (@fachrynuzuli) May 1, 2024
Kalau ada accountability group, lo akan jadi lebih sering sharing, dan bisa buat kawan baru juga secara online.
Self-promotion = introducing the world to your way of thinking.
Di pekerjaan gue sekarang, gue sudah/sedang terlibat dalam 8 project digital, dengan 2 diantaranya punya masing-masing 4 sub-project. Berarti total bergelut dengan 16 project yang 90% jalan bersamaan.
Apakah rekan-rekan di kantor ada yang tau?
No, not even my peers know about it, they won’t notice.
Karena gue nggak bragging, nggak ada cerita detail mengenai apa yang gue kerjakan. Gimana kalau gue mulai cerita ke rekan-rekan di kantor?
Mungkin mereka mulai tau, tapi sakit telinga mendengarnya.
Sekarang bayangkan sosial media, di mana 99% orang nggak ada yang lo kenal.
Lebih pasti lagi nggak ada yang tau tentang lo, nobody knows you exist.
Bayangkan kalau nanti at some point lo butuh sesuatu dari sosial media.
- Butuh agar ada yang beli produk digital buatan lo
- Butuh agar ada yang kolaborasi dengan lo
- Butuh agar ada yang beli servis dari lo
Nggak akan ada yang lihat, bro. Nggak ada yang kenal dengan lo, dan tau cerita lo.
Lo nggak bisa dalam sehari naik pangkat dari sekedar penonton, jadi orang yang worth untuk dibaca postingannya, that’s not how the world works.
Lo harus proaktif menunjukkan apa yang udah lo buat, apa yang sedang lo kerjakan, dan mengapa hal tersebut penting bagi lo?
Jadi, kalau lo udah siap untuk naik pangkat dari konsumer menjadi kreator, mulai dari 3 hal berikut.
1) Share proses di balik layar
Jangan cuma tunjukkan hasilnya, justru lebih baik kalau lo bisa nunjukin proses pembuatannya.
Share tentang blueprint jeleknya, draft pertama yang sudah refined, coretan-coretan buruk dan day-to-day basis saat menjalankan project tersebut.
Bayangkan lo cerita ke keluarga soal project yang sedang lo kerjakan, mungkin mereka tertarik, dan penasaran dengan detail prosesnya. Bawa orang-orang di internet untuk mengalami hal yang sama.
Sehingga lo dan pekerjaan lo jadi lebih relate dan menarik.
2) Polarisasi suatu topik di industri kamu—ambil posisi kiri atau kanan
Jangan takut untuk mengambil sisi dari salah satu topik yang jadi perdebatan. Kalau lo cuma ngasih posisi aman, apa menariknya untuk follow perjalanan lo?
Orang-orang, akan tertarik kepada orang lain yang punya keyakinan.
That’s how I made people believe in me, because I am sure about what my position. Belum tentu gue yang benar, namun setidaknya gue langsung komit saat punya pendapat.
Lo nggak akan bisa menyenangkan semua orang, lo pasti udah paham soal itu.
3) Buat konten edukasi yang otentik
Otentik berarti ada sentuhan personality di dalamnya.
Jangan ‘ajarin’ audience. Mereka udah cukup ngerasain sekolah, jangan jadi guru lagi. Menulislah selayaknya sedang berbicara.
Gue juga sedang berproses dalam hal ini.
Kalau lo sadar, gue sedang belajar cara menulis yang bisa imply kalau gue sedang bicara dengan santai.
Buat konten selayaknya lo sedang bicara, bukan pidato.
Simple, not easy.
Bagaimana mulainya?
Kalau lo nggak punya saat ini, bisa pilih antara LinkedIn.
Professional di bidang lo akan cukup ramai di LinkedIn, dan dengan nature-nya yang suka saling memuji, akan jadi tempat yang cocok.
Kalau lo nggak siap dengan LinkedIn, coba mulai dengan X (twitter).
Twitter diisi dengan bubble-bubble yang saling bersinggungan.
Ada bubble memes, dark content (accident), porn, and some bullsh*t. Ada juga bubble creator, professional, sports, and money twitter.
Apps akan memunculkan konten yang buat lo tertarik.
Tinggal refine aja followings lo dan mute akun-akun yang nggak sesuai dengan tujuan lo.
Why X?
Karena aplikasinya writing based.
Kalau mau attract keramaian, gunakan video. Kalau mau attract orang-orang brilian, gunakan tulisan.
Gue nggak saranin pakai Instagram.
Di IG, semua hanya tentang how it looks, dan how much you paid ke Mark Zuckerbergggg. Algoritmanya sangat mengutamakan paid ads. (See what I did there, polarizing).
Buktikan kalau tanpa looks, lo juga bisa thriving—kecuali lo mau ambil niche jadi tukang foto.
Even so, tetap aja lo bisa sharing proses mengambil foto, filosofi dan cerita dibaliknya melalui tulisan.
Promosikan dirimu setiap hari (online):
– Opini
– Pekerjaan
– Cara berpikir
– Masalah yang lo selesaikanOrang-orang akan:
– Suka
– Benci
– Follow
– Ikut gabung
– MengabaikanFocus on what matters
Kalau lo ingin nyobain rasanya, mulai promosikan diri lo untuk 30 hari ke depan.
Bisa gunakan prompt dari akun X @narawastu yang sempat gue bahas di awal, berikut prompt-nya. (https://t.co/cpUXgygOH1)
Share hasil kerjamu, pemikiran, dan nilai unikmu.
Stop bekerja secara undercover, mulai bangun CV online-mu.
I wanna see your progress next week.
Until next week,
– fachry