2 tahun setelah gue menerima pay cut 57%

Di tahun 2022, gue pernah sepakat untuk pindah ke departemen digitalisasi. Gue sangat suka dengan prospek dari pekerjaan ini.

Digital project management, that’s where’s the world’s heading, right?

Singkat cerita, demi mendapati posisi ini gue harus merelakan 57% take home pay sebelumnya.

Bagi gue tentu nggak masalah, asalkan bisa make up untuk kekurangannya dari tabungan, dan segera catch up ‘kehilangan’ gue, semua bisa diselesaikan.

Namun, dua tahun berlalu, gue sepertinya udah nggak mampu lagi bertahan dengan keadaan ini.

Mungkin, udah saatnya gue bertumbuh?

Marahlah pada dirimu

Seingkali kita merasa berada di tempat yang bukan seharusnya.

Seolah-olah menolak situasi kita saat ini.

Satu hal yang gue pelajari, jarak antara posisi sekarang dan posisi yang kita inginkan adalah skill.

Ada komponen skill yang membuat kita terpisah oleh jurang yang cukup besar antara di mana posisi kita sekarang, dan di mana posisi kita seharusnya.

Jurang tersebut adalah Hero’s Journey.

Hero’s Journey adalah plot cerita yang harus lo isi, sebagai pemeran utama dalam hidup lo.

Cerita. Cerita memberikan arti ke kehidupan kita.

Identitas lo, adalah apa yang lo ceritakan ke diri lo sendiri.

Lo akan menghidupi cerita itu dengan autopilot kalau lo nggak ngasih kesadaran penuh ke ceritanya.

Bagaimana caranya agar cerita lo bisa berakhir sesuai di posisi yang lo inginkan, kalau lo nggak ngasih kesadaran penuh ke dalamnya?

Dalam hero’s journey, lo itu hero-nya, atau vilain-nya?

Dua entitas saling terikat yang tidak bisa dirasa jika salah satunya tidak ada.

Begitu juga hidup, tiada hidup tanpa penderitaan.

Tiada baik tanpa jahat. Tiada yin tanpa yang. Tarik, dan dorong.

Semua ini adalah cerita, seperti permainan yang bisa lo kontrol.

Kembali ke hero dan villain, perseteruan antara baik dan jahat yang menentukan arahmu dalam hidup.

Kalau lo melawan dengan sadar, lo akan bergerak positif.

Namun kalau lo menghindari konsep tersebut, lo akan bergerak ke arah negatif.

Hero itu datang dari bawah.

Meningkatkan level seiring meningkatnya tantangan.

Gagal berulang kali, namun tidak berhenti.

Hero menjadi kuat, mengambil beban dan tanggung jawab yang lebih besar, menumpuk odds kepada dirinya.

Setelahnya, hanya ada cerita untuk dikenang.

Sang hero, berhasil menumpas kejahatan, dan meninggalkan warisan berharga di dunia ini.

Gue, saat ini sedang berada di mulut jurang tersebut, sebuah hero’s journey yang akan gue ambil.

Roller coaster of emotion, yang mungkin gue nggak akan siap, namun harus dilakukan.

Jika gue nggak melawan, gue akan terbawa ke arus negatif.

Gue akan benci pekerjaan gue yang sekarang—which by the way I really love.

Tantangan dalam hidup adalah mengetahui di mana kita dalam cerita Hero’s journey tersebut.

Atau mungkin menyadari, lo adalah villain-nya?

Level up your character

Di mana lo sekarang?

Apakah udah sesuai dengan posisi yang lo inginkan?

Coba lihat kondisi:

  • Keuangan
  • Kesehatan tubuh
  • Hubungan & Pasangan

Bahagia nggak?

Atau lo udah mulai kesal?

Lo adalah karakter utama, bukan cuma selapis kesadaran dari cerita hidup lo yang melambangkan sifat dan hal negatif.

“Aku miskin,”

“Aku bodoh,”

“Aku lemah,”

Lo, akan jadi seperti apa yang lo ceritakan ke diri lo sendiri.

Stress yang dihasilkan oleh perasaan negatif bisa lo arahkan ke hal-hal positif.

Gunakan residu energinya untuk menyesuaikan diri lo menjadi seseorang yang lo pengin. Cerita yang lo pengin alami.

Bayangkan masa depan lo.

Tulis goals-goals yang lo harus tempuh.

Tulis prioritas yang lo harus jalani.

Sederhana.

Belajar menaikkan level.

Bencilah pada dirimu sekarang, karena berpuas diri dengan posisi saat ini.

Kuasai perputaran antara hal baik dan buruk yang terjadi, dan jadikan mereka sebagai bahan bakarmu untuk bertumbuh.

Aku, bukan satu-satunya yang sedang berada di jurang Hero’s Journey.

Kita, jauh lebih baik daripada ini.

Talk soon,

fachry