Kalau kamu seorang yang egois, jadilah penulis


Sebelum bekerja sebagai PM digitalisasi, aku sempat berkarier sebagai analis finansial.

Setiap pekan menyediakan fresh analysis mengenai satu saham pilihan.

Umumnya, berupa rekomendasi beli.

Artikel dibangun dengan rajutan dari temuan-temuan yang kudapat dari laporan keuangan, public expose, berita, sosial media, hingga tokoh ternama.

Mostly, dari laporan keuangan dan catatan kaki.

Di akhir artikel, aku akan sematkan disclaimer yang menyatakan antara “Penulis memiliki posisi di saham,” atau “Penulis tidak memiliki posisi di saham.”

Ratusan (jika tidak ribuan) orang berhasil terbantu dengan tulisan-tulisan dan analisaku.

Wajar, butuh berminggu-minggu riset untuk hanya mencapai kesimpulan beli pada harga tertentu.

Pada saat itu, aku berpikir bahwa yang kulakukan adalah mulia.

Aku merelakan waktu dan pikiran untuk riset, sementara mereka bisa memanfaatkan waktu mereka untuk hal lain, dan mengganjarku dengan bayaran yang menurutku tidak sepadan.

Tidak pernah aku komplain dengan situasi tersebut.

Aku berpikir, aku membantu mereka.

Di akhir 2023, dua tahun setelah berhenti “menulis untuk orang lain.”

Aku ‘terbangun’.

Terbangun bahwasanya aku nggak menulis untuk mereka.

Aku melakukan semuanya untuk diriku sendiri.

“Writing is an act of ego. Might as well admit it.”

Dengan mem-publish tulisan, aku ingin orang-orang membacanya.

Berpikir bahwa aku menulis hanya karena aku suka, adalah kebohongan yang kurancang menghibur diriku sendiri.

Sejak saat itu, pendekatanku mulai berubah.

Aku mengadopsi pandangan untuk “Write to yourself.”

Write to Yourself

Istilah customer avatar, adalah jenis pelanggan yang kamu ingin untuk hadir dan menikmati konten-konten darimu.

Dalam hal ini, customer avatar-mu adalah dirimu sendiri.

Well, bukan dirimu yang sekarang, namun dirimu di masa lalu.

Apa yang sudah kamu tempuh?

Apa masalah terbesarmu?

Apa pekerjaanmu kemarin? Apa pekerjaanmu sekarang? Apa pekerjaan impianmu?

Bayangkan jika dirimu 2-3 tahun yang lalu punya ilmu sebanyak dirimu yang sekarang.

Pasti kamu rela bayar sebanyak apapun untuk pengalaman 2-3 tahun itu, akan sangat berharga bukan?

Mulai tulis dan jawab hal-hal berikut:

  1. Apa pekerjaan pertama dan pelajaran yang kamu dapat?
  2. Kesalahan terbesar yang kamu pernah buat sejak menyentuh usia 17 tahun?
  3. Judul buku yang pernah kamu baca, dan benar-benar mengubah caramu melihat dunia?
  4. Apa pencapaian yang paling kamu banggakan? Bisakah kamu jelaskan step-by-step dalam mencapainya?
  5. Siapa mentor yang paling kamu idolakan? Apa pelajaran penting yang kamu dapat darinya?
  6. Kapan kamu merasa sangat hidup?
  7. Di mana kamu menemukan tujuan hidup? Bagaimana caramu mengajak orang lain menemukan tujuan hidupnya?

7 pertanyaan ini bisa kamu lebarkan lebih jauh.

Kemungkinan saling tumpang tindih, memberikan satu gambaran yang lebih komprehensif tentang dirimu.

Bisa jadi, ada ribuan orang di luar sana yang memiliki kesamaan denganmu.

Ingat, kamu menulis untuk dirimu sendiri, namun menarik orang lain.

Talk soon,

fachry ‘write to yourself’ nuzuli