Menulis adalah skill yang paling baik untuk self-improvement.
Sering kali, untuk meningkatkan kualitas tulisan, effort yang kita keluarkan justru jauh dari aktivitas menulis.
Kalau kamu mau coba jadi penulis, kamu harus implementasikan 6 habit/kebiasaan berikut ke dalam hidupmu.
1 → Konsisten setiap hari
Waktu yang sempurna nggak akan pernah ada. Mau nggak mau, kamu harus sediakan waktunya.
Di awal, kamu pasti merasa sulit.
Namun lambat laun usahamu akan terbayar, kamu akan ketagihan.
Kalau kamu mau jadi “Penulis”, maka bertindaklah selayaknya “penulis”.
Nggak ada penulis yang nunggu waktu yang tepat.
Kecuali mereka yang suka menunda-nunda.
2 → Jalan 10.000 langkah setiap hari
Serius.
Jadi penulis bukan berarti ngurung diri di kamar sampai tiba saatnya Eureka moment.
Kamu justru jauh lebih butuh udara segar daripada siapapun.
Masa-masa di mana menulis = ngurung diri, itu sudah lewat.
Cukupkan waktu untuk riset, selebihnya kamu pakai untuk jalan.
Semakin kamu jauh dari meja tulis, semakin deras ide berdatangan.
3 → Lempar HP jauh-jauh
Not literally.
Block internet.
Block socmed.
Block segala distraksi yang bisa muncul kapan saja.
Social media berhasil menghilangkan konsep jarak dan membuat kita sangat terhubung.
Sayangnya, socmed sangat buruk dalam mengontrol jumlah dristraksi yang masuk ke otak kita.
Sebagai pengguna yang bertanggung jwab, kamu yang harus mengontrol dirimu sendiri.
Namun, seperti yang kita tahu, hp itu buat kecanduan, dan pecandu butuh cara yang berbeda untuk menanggulangi kecanduannya.
Tentukan time block untuk menulis, dan buang distraksi dari diri kamu.
Even better, tentukan time block di mana distraksi yang mungkin muncul sangat minimum.
Bagiku, jam 4-6 pagi adalah surga untuk menulis.
Cari waktumu, lalu buang segala akses ke internet di jam tersebut.
Disiplin.
4 → Capture idea, kapanpun di manapun
Nggak ada yang bisa atur kapan ide harus muncul.
Aku punya sistem untuk nangkap ide setiap hari dengan menghubungkan iPhone quick capture ke Obsidian yang langsung store ke dalam Daily Notes.
Dengan ini, aku bisa tenang di penghujung hari karena tahu bahwa catatanku sudah berisi.
Pengalaman sebagai PM ngebuatku rajin banget mencatat hal yang kelihatannya nggak penting.
Berdasarkan pengalaman, ide atau informasi bisa hilang 15-20 menit jika nggak dicatat.
Beberapa bahkan hilang dalam hitungan detik.
Sayang banget kan, sekarang kamu dapat AHA momen, tapi besoknya lupa.
5 → Baca bacaan berkualitas
“Membaca aja udah sulit, apalagi bacaannya berkualitas.”
Salah!
Membaca mungkin sulit, tapi kalau bacaannya punya intrik tertentu, kamu pasti lebih engaged untuk ngelanjutin sampai habis.
Kamu nggak bisa atur bacaan yang muncul ke timeline (misalnya X/twitter).
Terkadang ada drama.
Terkadang ada memes.
Terkadang ada ilmu langka.
Kamu akan tertarik dengan bacaan yang sejalan dengan value diri kamu.
Kalau kamu lebih suka baca drama dan memes, mungkin value kamu memang disitu.
Namun kalau kamu ingin berubah, mulailah batasi apa yang kamu baca.
Jangan buang waktu untuk membaca bacaan-bacaan drama seperti di “Komunitas Marah-Marah”.
Menjadi penulis adalah tentang pergantian identitas.
Kamu mengganti identitas, dari seorang konsumer menjadi seorang creator.
Kamu melihat dunia dari 2 atau lebih dimensi.
Ketika melihat konten, kamu akan:
- Merasa terhibur
- Mencari alasan mengapa kontennya menghibur
- Mencari cara untuk menulis ulang konten tersebut dengan caramu sendiri
Jika saat ini kamu kurang aware dengan emosi kamu, mungkin sudah saatnya kamu mengganti identitas itu.
Jika saat ini kamu belum bisa mengontrol habit kamu, mungkin sudah saatnya mengatur habit kamu.
Bisa jadi insan yang lebih baik?
Talk soon,
fachry